Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Kepada Hujan

puisi ini lahir dari rahim banjir, mencari kata-kata kerumah-rumah hujan menyusui puisi ini dengan kasih serta tangisan ke angin resah diasuh dan dingin segala berpeluh hari ini puisi lahir dari rahim banjir, dan disusui air mata do'a yang mengalir. 2017

Rumah

Menjadi anak, kita terlahir dari sepasang orangtua, Ibu dan Bapak, dengan siapapun kita diasuh kita tetap selalu memiliki ikatan batin dengan orangtua kandung. Itulah sebabnya kita biasa menyebutnya rumah dalam konteks kebatinan. Orang tua sebagai rumah pertama, tempat pulang, tempat berganti pakaian (mengganti tiap proses tahapan menuju kedewasaan), serta tempat dimana kita tidur dan memperoleh keamanan utama. Seiring berjalannya waktu saat kita akan bejalan menuju bibir pintu gerbang penentuan jalan kita sendiri, proses dimana kita menjadi manusia yang utuh sebagai manifestasi dari kedewasaan dalam berperilaku maka rumah kita akan biasa kita tinggalkan dalam proses tahapan mencari jati diri. Namun pada artian sebenarnya kita tidak meninggalkan secara menyeluruh, hanya sebatas menaruhnya sejenak sebagai bentuk memberikan ruang bagi sebuah hal baru yang akan kelak dibawa kembali ke rumah dalam proses perjalanan yang akan dilakukan. Pada proses perjalanan pencarian jati diri yang bers...

Dua kota

diantara dua kota, pilihan mengulur memberikan satu jalan untuk mencari kata-kata jiwaku kolam sepi menampung hujan puisi dari air jalan raya pergi ke sanubari cinta diantara dua kota, aku hujan gelisah mencari makna dari jalan-jalan maya 2017

Suluk Jati

Maka malam perlu kamu jelajahi, dan jadilah tukang sapu jalanan. Barangkali disana masih ada sisa-sisa do'a pedagang tadi siang atau do'a itu masih terpeluk hangat menunggu pembeli sampai larut. Tidak perduli seberapa lama begadangmu, jika yang kau lakukan hanya untuk dirimu sendiri maka buat apa? Kaki kecil kita terlalu sanggup untuk menapakinya, mengajaki segala keresahan, dan pergilah kita ke belantara sunyi sebenarnya. Kita tidak sedang menuju, tapi kita sendiri target tujuan itu, maka tidak akan pernah ada orang lain dalam segala keburukan kita. Satu-satunya pelototan telunjuk hanya bisa dijatuhkan di depan hidung sendiri. Ya, kita lah tersangkanya, membiarkan setiap jeda pada dingin dan lelapnya malam memeluk yang masih memikirkan masa tua dan mencari karunia tanpa menyerah. Nganti srengengene muncul sunar sumamburat, perjalanan akan kembali lagi seperti awal, terus dan selalu. Kadang cinta suka usil keluar sendiri dari sela mata dan mencoba memandang dunia. Sampai a...

Catatan

"Guru itu pangkal awan langit-langit, yang memasak hujan jadi dingin dan bumi jadi tempat mandi calon gembala."

Suara

Semua orang bisa jadi apa saja, dalam setiap keputusan yang diambil, banyak diantara mereka yang sudah merasa dalam bayangan masing-masing itualah diri mereka sebenarnya. Maka kejadian seperti itu bisa berlaku saat itu juga, akan tetapi perjalanan hidup itu cukup panjang jika memang setiap orang diberi keberkahan umur, dan disanalah letak sebuah perjalanan dilakukan. Bayangan yang pada awalnya dipikirkan sebagai jalan menuju diri mereka sebenarnya akan mengalami gesekan yang menyulitkan. Akan selalu ada suara-suara dalam diri sendiri yang mencoba keluar menjadi keputusan-keputusan baru yang harus dipilih. Maka duduk, istirahat, dan berpikirlah. Cari sunyimu dalam sebenarnya.

Jalan

dengan sepi, mata jauh bisa melihat kaki kemana, sedalam jejak gagak buangan menggadaikan hidup pada malam. cintalah yang memeluk tangis angin membujuk pergi usiran bulan dan menampar kasih di kedua sela sayap. tinggallah bernyanyi, gagak hidup di cemara-cemara sunyi dirilah juga takkan dikenali. 2017

Tugu

aku miskin kekayaanku adalah keikhlasan jiwamu untuk merelakan kebersamaan. jalanku adalah cemara-cemara sunyi dari jalan asing yang tidak dikenal. mencarilah hati ke gunung merangkaki seisi samodra bagaimana aku mau menunjuk-nunjukkan namaku, sedang aku tidak mampu berada. bagaimana aku mau menunjuk-nunjukkan kekuatanku, sedang aku bukan siapa-siapa. bagaimana aku mau menunjuk-nunjukkan diriku, sedang aku adalah ketiadaan. 2017