Rumah
Menjadi anak, kita terlahir dari sepasang orangtua, Ibu dan Bapak, dengan siapapun kita diasuh kita tetap selalu memiliki ikatan batin dengan orangtua kandung. Itulah sebabnya kita biasa menyebutnya rumah dalam konteks kebatinan. Orang tua sebagai rumah pertama, tempat pulang, tempat berganti pakaian (mengganti tiap proses tahapan menuju kedewasaan), serta tempat dimana kita tidur dan memperoleh keamanan utama.
Seiring berjalannya waktu saat kita akan bejalan menuju bibir pintu gerbang penentuan jalan kita sendiri, proses dimana kita menjadi manusia yang utuh sebagai manifestasi dari kedewasaan dalam berperilaku maka rumah kita akan biasa kita tinggalkan dalam proses tahapan mencari jati diri. Namun pada artian sebenarnya kita tidak meninggalkan secara menyeluruh, hanya sebatas menaruhnya sejenak sebagai bentuk memberikan ruang bagi sebuah hal baru yang akan kelak dibawa kembali ke rumah dalam proses perjalanan yang akan dilakukan.
Pada proses perjalanan pencarian jati diri yang bersifat luas seperti mencari ilmu, bekerja, merantau dan sebagainya, disana kita akan menemukan beberapa keasyikan, beberapa guru, ataupun sahabat baru. Maka disanalah rumah kedua kita dibentuk dan dimulai. Membangun kekeluargaan dan komunikasi baru sebagai wujud tahap awal dalam memondasi jati diri.
Dengan adanya rumah baru yang lebih menyenangkan lebih membuat nyaman maka bawa makna dan isi rumah baru itu kedalam prinsip kita, dan kelak bawa itu kerumah utama. Sebagai bentuk pengokohan tempat tinggal, dan akan terus seperti itu prosesnya.
Maka berjalanlah terus, dan kita selalu mencari jawaban atas setiap pertanyaan-pertanyaan kita. Kita tidak akan pernah kehilangan jalan pulang, sebab akan selalu ada cahaya yang menembus ke langit dan menuntunmu diantara hujan-hujan. Ialah do'a dari orang tua kita sebagai penunjuk jalan dalam segala pengembaraanmu.
Komentar
Posting Komentar